Modul 1.1.a.6 Demonstrasi Kontekstual

Pemahaman mengenai Pemikiran Ki Hadjar Dewantara :


Menurut  KHD,  pengajaran  (onderwijs)  adalah proses Pendidikan dalam memberi

ilmu atau  berfaedah  untuk  kecakapan  hidup  anak  secara  lahir  dan  batin.   

Sedangkan Pendidikan  (opvoeding)  memberi  tuntunan  terhadap  segala  kekuatan 

kodrat  yang dimiliki  anak  agar  ia  mampu  mencapai  keselamatan  dan  kebahagiaan 

yang  setinggi-tingginya  baik  sebagai  seorang  manusia  maupun  sebagai  anggota 

masyarakat.


  • Pendidikan Menuntun:

 

Dalam proses “menuntun”, anak diberi kebebasan namun pendidik sebagai
‘pamong’ dalam  memberi  tuntunan  dan arahan  agar  anak  tidak  kehilangan 
arah  dan membahayakan dirinya.

 

KHD juga mengingatkan bahwa anak bukan kertas kosong yang bisa digambar
sesuai keinginan orang dewasa, akan tetapi Pendidik  itu  menuntun 
(memfasilitasi/membantu)  anak untuk menebalkan garis samar-samar agar dapat
memperbaiki laku-nya untuk menjadi manusia seutuhnya.

 

Dalam  menuntun  laku  dan  pertumbuhan  kodrat  anak,  KHD  mengibaratkan 
peran pendidik seperti seorang petani dan tukang kebun. Anak-anak itu seperti
padi. Jika bibit padi yang disemaikan di sawah yang subur, maka padi tersebut
akan tumbuh subur dengan mendapatkan sinar matahari yang baik dan pengairan
yang cukup maka padi itu akan tumbuh dengan baik. Tetapi sebaliknya jika bibit
padi tersebut disemaikan di sawah yang kering atau perairan yang berlebihan
maka bibit padi tersebut tidak akan hidup dengan baik.

 

  • Kekuatan Kodrat:

 

KHD hendak mengingatkan pendidik bahwa pendidikan anak sejatinya menuntut
anak mencapai kekuatan kodratnya sesuai dengan alam dan zaman.

 

Kodrat alam berkaitan dengan “sifat” dan “bentuk” lingkungan di mana anak
berada, sedangkan kodrat zaman berkaitan dengan “isi” dan “irama”.

 

Bila melihat dari kodrat zaman,  pendidikan  saat  ini    menekankan  pada 
kemampuan  anak  untuk  memiliki Keterampilan  Abad  21  sedangkan  dalam 
memaknai  kodrat  alam  maka  konteks  lokal sosial  budaya  murid  di  Indonesia 
Barat  tentu  memiliki  karakteristik  yang  berbeda dengan murid di Indonesia
Tengah atau Indonesia Timur.

 
 

  • Manusia Merdeka:
 
Manusia  merdeka adalah manusia yang hidupnya lahir atau batin tidak tergantung
pada orang lain, akan tetapi bersandar atas kekuatan sendiri. 

 

Pendidikan menciptakan ruang bagi murid untuk bertumbuh secara utuh agar  
mampu memuliakan dirinya dan orang lain (merdeka batin) dan  menjadi mandiri   
(merdeka  lahir).  Kekuatan  diri  (kodrat)  yang  dimiliki,  menuntun murid menjadi  
cakap mengatur hidupnya dengan tanpa terperintah oleh orang lain.
 
  • Budi Pekerti:
 
Menurut  KHD,  budi  pekerti,  atau  watak  atau  karakter  merupakan  perpaduan   
antara gerak  pikiran,  perasaan  dan  kehendak  atau  kemauan  sehingga   
menimbulkan  tenaga.Budi  pekerti  juga  dapat  diartikan  sebagai  perpaduan  antara  Cipta  (kognitif),   
Karsa (afektif) sehingga menciptakan Karya (psikomotor). 

 

Lebih  lanjut KHD  menjelaskan,  keluarga  menjadi  tempat  yang  utama  dan   
paling  baik untuk  melatih  pendidikan  sosial  dan  karakter  baik  bagi  seorang  
anak.  Keluarga merupakan  tempat  bersemainya  pendidikan  yang  sempurna   
bagi  anak  untuk  melatih kecerdasan  budi-pekerti  (pembentukan  watak   
individual).  Keluarga  juga  merupakan sebuah  ekosistem  kecil  untuk   
mempersiapkan  hidup  anak  dalam  bermasyarakat dibanding dengan institusi  
pendidikan lainnya.Alam  keluarga  menjadi  ruang  bagi  anak  untuk  mendapatkan  teladan,   
tuntunan, pengajaran dari orang tua. Keluarga juga dapat menjadi tempat untuk  
berinteraksi sosial antara  kakak  dan  adik  sehingga  kemandirian  dapat   
tercipta  karena  anak-anak  saling belajar  antara  satu  dengan  yang lain  dalam   
menyelesaikan  persoalan  yang  mereka hadapi. Oleh sebab itu, peran orang tua  
sebagai guru, penuntun, dan pemberi teladan menjadi sangat penting dalam  
pertumbuhan karakter baik anak.
 

Kesimpulan :
Sebagai Pendidik
  1. Patutlah kita sebagai teladan bagi murid-murid kita
  2. Harus mengikuti zaman dan perubahan-perubahan yang terjadi dalam dunia pendidikan
  3. Memahami karakter dan kebutuhan murid di dalam kelas



Filosofi Ki Hadjar Dewantara:
"ing  ngarso  sung  tulodo", "ing  madya  mangun  karso",  "tut  wuri  handayani"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Postingan